Memasuki Agustus, lapak penjual bendera Merah Putih dan pernak-pernik kemerdekaan mulai bermunculan di berbagai daerah. Namun, di balik ramainya atribut merah putih di jalanan, sejumlah pedagang justru menghadapi penjualan yang lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Di Pasar Asemka, Jakarta Barat, misalnya, Ade, 21 tahun, mengaku belum mendapatkan pembeli hingga siang hari pada 6 Agustus. Tahun sebelumnya, omzet hariannya bisa mencapai sekitar Rp500 ribu. Tahun ini, rata-rata hanya sekitar Rp200 ribu.
Cerita serupa datang dari Pontianak. Deddy, pedagang asal Bandung yang sudah 11 tahun berjualan bendera di Kalimantan Barat, mengatakan pembelinya baru sekitar dua hingga tiga orang per hari setelah sepekan membuka lapak.
Di Yogyakarta, Heri, pedagang yang telah sekitar 10 tahun berjualan bendera, juga merasakan perubahan. Pada awal Agustus, ia hanya mampu menjual sekitar satu hingga dua bendera atau atribut kemerdekaan dalam sehari.
Keluhan mengenai penurunan penjualan juga muncul dari pedagang di Cirebon dan Karangasem. Meski demikian, kondisinya tidak sepenuhnya sama. Beberapa pedagang masih melihat adanya permintaan dan berharap penjualan meningkat menjelang 17 Agustus.
TIDAK SESEDERHANA SOAL DAYA BELI
Jika sejumlah cerita tersebut dilihat secara bersamaan, memang terlihat adanya pola perlambatan penjualan di beberapa daerah. Tetapi, menjadikan kondisi pedagang bendera sebagai bukti bahwa daya beli masyarakat Indonesia sedang turun secara keseluruhan juga tidak tepat.
Ada faktor lain yang ikut memengaruhi.
Di Yogyakarta, misalnya, Heri melihat sejumlah kantor dan instansi tidak lagi membeli bendera serta umbul-umbul baru setiap tahun. Perlengkapan yang masih layak digunakan kembali.
Di Pontianak, persaingan juga semakin ketat karena semakin banyak pedagang musiman yang menawarkan barang serupa. Sementara itu, waktu mulai berjualan turut menentukan. Deddy mengaku tahun ini baru membuka lapak pada awal Agustus, lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Artinya, berkurangnya transaksi tidak selalu berarti masyarakat kehilangan kemampuan untuk membeli, Sebagian konsumen mungkin memang sedang menekan pengeluaran, tetapi sebagian lainnya hanya tidak memiliki kebutuhan untuk membeli barang yang masih mereka miliki.
ANGKANYA BERBEDA-BEDA DI TIAP DAERAH
Perbandingan dari beberapa wilayah juga memperlihatkan bahwa fenomenanya tidak seragam. DI Jakarta, Ade mencatat penurunan omzet dari sekitar Rp500 ribu menjadi Rp200 ribu per hari. Di Pontianak, pembeli baru berkisar dua hingga tiga orang per hari. Sementara di Karangasem, Bali, pedagang masih berharap omzet harian meningkat dari sekitar Rp200 ribu menjadi Rp500 ribu seperti tahun sebelumnya.
Di Cirebon, permintaan bahkan masih datang dari masyarakat maupun sejumlah instansi. Pedagang setempat mengaku penjualan memang belum menyamai tahun-tahun sebelumnya, tetapi pembeli masih terus berdatangan. Perbedaan ini penting. Sebab, jika hanya mengambil satu lokasi, kesimpulannya bisa berbeda jauh dengam ketika melihat beberapa wilayah sekaligus.
BENDERA MENJADI CERMIN KECIL PERILAKU KONSUMSI
Bendera dan pernak-pernik 17 Agustus memang bukan kebutuhan pokok. Karena itu, barang seperti ini sangat bergantung pada keputusan konsumen untuk mengeluarkan uang pada momen tertentu. Ketika kondisi ekonomi membuat rumah tangga, kantor, atau organisasi lebih berhati-hati dalam mengatur anggaran, pengeluaran yang tidak mendesak bisa menjadi yang pertama dikurangi.
Namun ada pula perubahan perilaku yang tidak selalu berkaitan langsung dengan pendapatan. Menggunakan kembali bendera lama, membeli dalam jumlah lebih sedikit, atau menunda pembelian hingga mendekati hari kemerdekaan juga dapat membuat pedagang merasakan sepinya transaksi pada awal Agustus.
Hal itu terlihat dari pengalaman para pedagang sendiri. Beberapa di antaranya mengatakan pembeli biasanya baru mulai ramai sekitar 10-17 Agustus.
Dengan kata lain, penjualan yang masih sepi pada awal Agustus belum tentu menggambarkan kondisi penjualan sepanjang musim kemerdekaan.
SINYAL KECIL, BUKAN KESIMPULAN BESAR
Dari Jakarta hingga Pontianak, Yogyakarta, Cirebon, dan Karangasem, cerita para pedagang menunjukkan adanya perubahan dalam aktivitas jual beli atribut kemerdekaan tahun ini.
Ada yang mengalami pnurunan omzet cukup besar. Ada yang pembelinya masih sedikit. Namun ada pula yang masih mendapatkan permintaan dan optimistis penjualan akan meningkat menjelang 17 Agustus.
Karena itu, fenomena ini lebih tepat dibaca sebagai Sinyal Kecil dari Perubahan Perilaku Konsumsi, bukan sebagai bukti tunggal bahwa daya beli masyarakat secara nasional sedang melemah.
Untuk melihat gambaran yang lebih besar, kondisi tersebut perlu dibandingkan dengan data penjualan ritel, konsumsi rumah tangga, inflasi, pendapatan riil, serta indikator ekonomi lainnya. Tetapi bagi para pedagang musiman, persoalannya jauh lebih sederhana.
Mereka hanya punya beberapa minggu untuk menjual stok yang sudah dibawa dari daerah asal. Ketika pembeli belum datang seperti yang diharapkan, setiap hari yang sepi berarti semakin sedikit waktu untuk mengejar omzet sebelum 17 Agustus berlalu.

