Harga pangan global mencapai level tertinggi dalam tiga setengah tahun terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara, konflik Rusia-Ukraina, serta ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu pasokan komoditas pangan dunia.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa (FAO) mencatat indeks harga komoditas pangan dunia naik menjadi 131,1 poin pada Juli 2026, meningkat dari 130,3 poin pada Juni. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Januari 2023.
FAO menyebut kenaikan harga terutama terjadi pada komoditas serealia, gula, dan minyak nabati. Harga gandum dunia meningkat akibat gelombang panas yang menurunkan hasil panen di sejumlah negara produsen utama, sementara gangguan ekspor melalui Laut Hitam akibat meningkatnya serangan antara Rusia dan Ukraina turut memperketat pasokan global.
Harga jagung juga mengalami kenaikan seiring kekhawatiran terhadap cuaca panas dan kering di wilayah penghasil utama jagung di Amerika Serikat.
Di sisi lain, harga gula terdongkrak oleh cuaca panas dan kering yang memengaruhi produksi di Uni Eropa serta meningkatnya permintaan etanol di Brasil setelah perubahan kebijakan pencampuran bahan bakar. Harga minyak nabati juga naik didorong permintaan biodiesel yang kuat, terutama dari Indonesia, dan kenaikan harga minyak mentah dunia.
FAO juga menilai konflik di Timur Tengah turut memberikan tekanan terhadap pasar pangan global karena jalur Selat Hormuz menjadi rute penting distribusi pupuk dunia.
Sementara itu, Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan fenomena El Nino berpotensi mendorong sekitar 50 juta orang masuk ke dalam kondisi kelaparan akut sebelum akhir tahun depan. Kawasan Amerika Tengah, Amerika Selatan, Karibia, dan Afrika bagian selatan diperkirakan menjadi wilayah yang paling terdampak.
Para petani di berbagai negara Eropa juga memperkirakan gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan terus menekan produksi pertanian sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dalam beberapa bulan mendatang.

