Produk cokelat bubuk dan kepingan arang karbon aktif asal Indonesia mulai membuka peluang pasar di Timur Tengah. Peluang tersebut ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bisnis senilai US$197.305 atau sekitar Rp3,5 miliar. Kesepakatan dalam bentuk memorandum of understanding (MoU) tersebut dilakukan antara PT Visi Indonesia Parama dan Bassam Salem Abdullah Fotis Company di Bandung, Jawa Barat, Senin (10/8/2026).
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi menilai kerja sama tersebut menunjukkan produk Indonesia memiliki kemampuan produksi dan kualitas yang mampu bersaing di pasar internasional. Sebelum kesepakatan ditandatangani, Bassam Salem Abdullah Fotis juga mengunjungi langsung fasilitas produksi PT Visi Indonesia Parama. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi calon pembeli untuk melihat proses produksi dan kualitas produk secara langsung.
Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Jeddah Bagas Haryotejo mengatakan fasilitas business matching terus dilakukan untuk mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan pembeli potensial. Menurutnya, kunjungan langsung ke fasilitas produksi dapat membangun kepercayaan sekaligus mempercepat realisasi tansaksi.
Bassam mengapresiasi fasilitasi yang diberikan Kementerian Perdagangan. Ia menilai produk Indonesia memiliki kualitas yang baik dengan harga kompetitif dan membuka peluang untuk memperluas jenis produk yang dipasarkan ke Timur Tengah hingga Afrika.
Dari sisi perusahaan Indonesia, Lukman Nurjaman selaku Managing Director PT Visi Indonesia Parama menyambut baik kunjungan tersebut. Menurutnya, pertemuan langsung memberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan produksi sekaligus menawarkan produk lain yang berpotensi diekspor.
Peluang perdagangan dengan Arab Saudi juga masih cukup besar. Pada Januari-Juni 2026, perdagangan nonmigas Indonesia-Arab Saudi mencapai US$1,68 miliar. Nilai ekspor Indonesia tercatat US$1,02 miliar, sedangkan impor dari Arab Saudi mencapai US$665,10 juta.
Sepanjang 2025, perdagangan nonmigas kedua negara mencapai US$2,94 miliar. Indonesia mencatat ekspor sebesar US$2,89 miliar dan impor US$1,06 miliar, sehingga surplus perdagangan nonmigas mencapai US$1,82 miliar.
Produk utama Indonesia yang diekspor ke Arab Saudi antara lain kendaraan dan bagiannya, lemak serta minyak hewani atau nabati, kapal laut, makanan olahan, serta kayu dann produk turunannya. Sementara dari Arab Saudi, Indonesia terutama mengimpor garam, belerang, kapur, plastik, bahan kimia organik, berbagai produk kimia, serta buah-buahan.

