Opini

Akibat Karhutla suasana Kalimantan Seperti Berada di Dunia Dipenuhi Zombie

Suasana Kalimantan saat ini menandakan bahwa bencana Karhutla semakin parah mengakibatkan keterambatan perputaran ekonomi hingga berdampak juga pada kesehatan.

T
Tim RedaksiJurnalis Redaksi
Jumat, 4 September 2026 pukul 13.12 WIB
Akibat Karhutla suasana Kalimantan Seperti Berada di Dunia Dipenuhi Zombie
Dok. MarkusAcian.com - Gambar ilustrasi berlisensi bebas terkait topik Opini.

Ada masa ketika keluar rumah adalah hal yang biasa. Membuka pintu, melihat langit, melihat awan bergerak, merasakan udara pagi, lalu menjalani aktivitas seperti biasa.

Tetapi di Kalimantan Barat, keadaan itu perlahan terasa seperti sesuatu yang berbeda.

Belakangan ini, setiap kali saya keluar dari rumah dan melihat ke atas, saya tidak lagi benar-benar melihat langit. Tidak ada birunya warna langit. Tidak ada awan yang terlihat jelas. Yang terlihat hanya warna putih keabu-abuan yang memenuhi pandangan.

Kabut asap ada di mana-mana.

Udara terasa penuh sesak. Bau asap terkadang begitu kuat. Dan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian paling sederhana dari kehidupan, yaitu menghirup udara, terasa berbeda ketika udara yang masuk ke paru-paru dipenuhi asap.

Hidup di tengah kondisi seperti ini terkadang membuat saya merasa seperti sedang hidup di dunia yang dipenuhi zombie.

Bukan karena manusia di sini berubah menjadi zombie.

Justru sebaliknya.

Manusia masih menjalani kehidupan seperti biasa.

Orang masih pergi bekerja. Anak-anak masih bersekolah. Kendaraan masih memenuhi jalan. Pedagang masih membuka dagangan. Aktivitas masyarakat tetap berjalan.

Kehidupan seolah harus terus berlangsung meskipun lingkungan di sekitar sudah tidak terasa normal.

Kita tetap berjalan di tengah kabut. Tetap melakukan pekerjaan. Tetap keluar rumah. Tetapi ketika melihat ke atas, langit yang biasanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sudah berubah.

Karhutla bukan persoalan baru bagi Kalimantan. Setiap musim kemarau, masyarakat kembali berhadapan dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan. Ketika hujan berkurang dan tanah mulai mengering, api menjadi ancaman yang kembali muncul.

Namun ada satu hal yang menurut saya perlu diluruskan ketika persoalan karhutla dibicarakan: jangan begitu mudah menyalahkan masyarakat lokal yang berladang.

Bagi sebagian masyarakat lokal dan masyarakat adat di Kalimantan, berladang bukan sekadar aktivitas membuka lahan. Berladang merupakan bagian dari kehidupan yang telah dilakukan secara turun-temurun dan memiliki tata cara tersendiri.

Ketika membuka ladang, masyarakat menggunakan lahan tanah mineral, bukan gambut. Pembukaan lahan juga tidak dilakukan dengan sekadar menyalakan api lalu meninggalkannya.

Di sejumlah masyarakat, terdapat doa maupun ritual adat sebelum membuka ladang. Setelah itu, api yang digunakan untuk membuka lahan dijaga agar tetap berada di area yang telah ditentukan dan tidak menyebar ke tempat lain.

Hal tersebut masuk akal karena masyarakat yang tinggal dan berladang di wilayah tersebut juga akan menjadi pihak yang paling dirugikan apabila api tidak terkendali.

Karena itu, menurut saya, tidak tepat apabila setiap kali Kalimantan diselimuti kabut asap, masyarakat dari luar daerah langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah masyarakat lokal yang membuka ladang.

Persoalannya jauh lebih kompleks.

Pembukaan lahan dalam skala besar untuk perkebunan merupakan persoalan yang berbeda.

Ketika perusahaan membuka lahan hingga ribuan hektare, dampaknya tentu tidak dapat disamakan dengan masyarakat yang membuka ladang untuk kebutuhan hidup. Terlebih ketika pembukaan lahan tersebut dilakukan di kawasan gambut.

Tanah gambut memiliki karakteristik yang berbeda dengan tanah mineral. Ketika terbakar, api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan sehingga jauh lebih sulit dikendalikan. Kebakaran di kawasan gambut juga dapat menghasilkan asap dalam jumlah besar dan bertahan lebih lama.

Di sinilah menurut saya letak perbedaan yang sering tidak terlihat ketika masyarakat luar Kalimantan membicarakan karhutla.

Mereka melihat api dan asap sebagai satu persoalan yang sama.

Padahal, bagi masyarakat yang hidup di Kalimantan, konteksnya bisa berbeda.

Ada masyarakat lokal yang membuka ladang di tanah mineral dengan tata cara yang telah dilakukan secara turun-temurun dan menjaga api agar tidak menyebar.

Di sisi lain terdapat pembukaan lahan dalam skala besar, termasuk untuk perkebunan kelapa sawit, yang dapat melibatkan kawasan gambut.

Ketika aktivitas pembukaan lahan perusahaan dan aktivitas berladang masyarakat berlangsung pada periode yang sama, masyarakat lokal dapat dengan mudah menjadi pihak yang pertama kali dicurigai ketika kabut asap muncul.

Inilah yang kemudian membuat muncul persepsi dari orang luar Kalimantan bahwa kabut asap terjadi karena masyarakat lokal membakar hutan untuk berladang.

Bagi saya, persepsi tersebut tidak menggambarkan keseluruhan keadaan yang terjadi di lapangan.

Saya tidak mengatakan bahwa seluruh kebakaran pasti berasal dari perusahaan. Kebakaran dapat memiliki berbagai penyebab dan setiap kejadian seharusnya dilihat berdasarkan kondisi serta bukti di lapangan.

Namun saya juga tidak melihat alasan untuk menjadikan masyarakat lokal sebagai pihak yang otomatis disalahkan hanya karena mereka memiliki tradisi membuka ladang dengan menggunakan api.

Perbedaan antara tanah mineral dan gambut, luas lahan yang dibuka, cara pembakaran, serta bagaimana api dikendalikan merupakan hal yang berbeda.

Dan perbedaan itu menjadi semakin terasa ketika kabut asap mulai menyelimuti wilayah tempat tinggal masyarakat.

Masalahnya kemudian tidak berhenti pada kebakaran.

Ketika musim kemarau datang bersamaan dengan kebakaran hutan dan lahan, persoalan lain ikut muncul.

Air mulai sulit ditemukan di sejumlah tempat. Sumber air dapat berkurang ketika kondisi semakin kering. Masyarakat kemudian berhadapan dengan dua persoalan sekaligus: udara yang dipenuhi asap dan ketersediaan air yang semakin terbatas.

Di satu sisi ada kekeringan.

Di sisi lain ada kebakaran.

Di antara keduanya, masyarakat tetap menjalani kehidupan sehari-hari.

Bagi orang yang tidak tinggal di wilayah terdampak, kabut asap mungkin hanya terlihat sebagai berita di layar ponsel. Mungkin hanya berupa foto langit yang berubah warna atau video jalanan yang terlihat berkabut.

Tetapi bagi orang yang tinggal di sini, semuanya terasa berbeda.

Kita melihatnya sendiri.

Kita menghirupnya sendiri.

Kita keluar rumah dan melihat langit yang sudah tidak seperti biasanya.

Setiap kali saya keluar rumah, saya melihat ke atas dan mencoba mencari awan.

Tetapi yang terlihat hanya warna putih.

Tidak ada batas yang jelas antara langit dan kabut. Matahari terkadang hanya terlihat samar. Udara terasa berat. Bau asap menjadi bagian dari lingkungan sekitar.

Pada titik tertentu, keadaan seperti ini bahkan bisa terasa biasa.

Kita mulai terbiasa melihat langit putih. Terbiasa dengan bau asap. Terbiasa menggunakan masker ketika keluar rumah. Terbiasa mendengar kabar tentang kebakaran.

Padahal beberapa tahun lalu, mungkin keadaan seperti ini masih terasa sebagai sesuatu yang luar biasa.

Sekarang, ketika musim kemarau datang, masyarakat kembali berhadapan dengan pemandangan yang sama.

Kalimantan yang selama ini dikenal dengan hutan dan alamnya seakan memiliki wajah lain ketika musim kebakaran tiba.

Bukan lagi tentang hijaunya pepohonan atau birunya langit.

Yang terlihat justru asap.

Yang terasa justru panas dan kering.

Dan yang terdengar adalah kabar tentang kebakaran yang terjadi di berbagai wilayah.

Saya tinggal di Kalimantan Barat dan melihat sendiri perubahan itu.

Setiap kali keluar dari rumah, saya melihat ke atas dan tidak lagi menemukan langit seperti biasanya.

Hanya putih.

Kabut asap memenuhi pandangan.

Udara terasa penuh sesak.

Di bawah langit yang tertutup asap itu, manusia tetap bergerak seperti biasa.

Kendaraan tetap berjalan.

Orang tetap bekerja.

Pedagang tetap berjualan.

Masyarakat tetap menjalani aktivitas sehari-hari.

Semuanya terlihat seperti kehidupan normal.

Hanya saja, langit di atasnya sudah tidak lagi terlihat normal.

Dan mungkin itu yang membuat suasananya terasa seperti dunia yang dipenuhi zombie: bukan karena manusia berhenti hidup, tetapi karena kehidupan tetap berjalan di tengah lingkungan yang perlahan berubah menjadi asing.

Artikel ini tulisan Opini dari Darius Netai
bukan tanggung jawab redaksi markusacian.com

ADVERTISEMENT
Internet Anti Lemot di Jepang, Kantong Tetap Hemat 50%
Part of MaranPublikasi

MaranPublikasi

News media digital markusacian.com dinaungi & dikelola secara profesional oleh MaranPublikasi.