Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena El Nino kembali muncul lebih cepat dari pola yang selama ini dikenal. Jika sebelumnya El Nino cenderung terjadi sekitar empat tahun sekali, kini kemunculannya dipengaruhi anomali iklim global akibat perubahan ilim.
Kepala BMKG, Teuku Fathani, menjelaskan Indonesia mengalami El Nino kuat pada 2015, kemudian kembali terjadi pada 2019, 2023, dan diperkirakan kembali menguat pada 2026. Menurutnya, percepatan tersebut menjadi salah satu dampak nyata perubahan iklim yang mengubah pola cuaca dunia.
BMKG juga mencatat perkembangan El Nino tahun ini lebih cepat dari perkiraan. Saat proyeksi awal dirilis pada Maret 2026, intensitasnya diperkirakan berada pada kategori sedang. Namun, hasil pemantauan terbaru menunjukkan El Nino kini telah masuk kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat.
Fenomena ini diperkirakan menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering, terutama pada Agustus hingga September. Sejumlah wilayah yang diprediksi paling terdampak meliputi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, Sumatra bagian selatan, hingga Papua Selatan.
BMKG menyebut pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipasi sejak beberapa bulan terakhir, termasuk koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk menghadapi potensi kekeringan, gangguan produksi pangan, krisis air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.




