Forest City di Johor, Malaysia, yang dahulu dipromosikan sebagai kota futuristik bernilai US$100 miliar, kini menghadapi kenyataan berbeda. Proyek yang dirancang menampung sekitar 700.000 orang itu diperkirakan hanya dihuni sebagian kecil dari target awal.
Kawasan dengan gedung-gedung tinggi dan banyak properti kosong tersebut belakangan menjadi lokasi penggerebekan dua sindikat penipuan. Polisi Malaysia menangkap 335 orang dan menyita ratusan perangkat elektronik serta aset lainnya.
Para tersangka diduga menjalankan penipuan investasi dan asmara berbasis mata uang Kripto dengan korban di luar negeri. Mereka terdiri dari 309 warga China, 19 warga Indonesia, tiga warga Malaysia, dan empat warga Myanmar.
Para ahli menilai kondisi Forest City yang sepi, memiliki banyak unit kosong, infrastruktur modern, serta konektivitas internasional membuat kawasan tersebut menarik bagi jaringan kriminal.
Proyek yang dikembangkan oleh Country Garden dan mitra Malaysia itu sebelumnya ditujukan sebagai kawasan mewah bagi investor asal China. Namun pandemi, krisis properti China, serta pembatasan pembiayaan membuat pembangunan dan penjualan properti tidak berjalan seusai rencana.
Kini, keberadaan sindikat penipuan di Forest City disebut menunjukkan bagaimana jaringan kriminal lintas negara semakin terorganisasi dan mampu beroperasi di lingkungan yang tampak legal.
Meski demikian, Forest City perlahan mulai kembali dihuni. Sejumlah warga mengatakan semakin banyak lampu apartemen yang menyala dan kawasan tersebut mulai terlihat lebih hidup dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

