News

Kolombia di Bawah Presiden Baru Mulai Pulihkan Hubungan dengan Israel

Presiden baru Kolombia, Abelardo de la Espriella, mulai membalik kebijakan luar negeri era Gustavo Petro dengan memulihkan hubungan diplomatik dengan Israel. Normalisasi ini juga membuka peluang kembalinya kerja sama pertahanan, teknologi militer, dan ekonomi kedua negara.

T
Tim RedaksiJurnalis Redaksi
Senin, 10 Agustus 2026 pukul 20.58 WIB
Kolombia di Bawah Presiden Baru Mulai Pulihkan Hubungan dengan Israel
Dok. MarkusAcian.com - Gambar ilustrasi berlisensi bebas terkait topik News.

Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella mulai membawa arah baru dalam kebijakan luar negeri negaranya. Tak lama setelah dilantik pada Jumat (7/8/2026), pemerintahannya menjadikan normalisasi hubungan dengan Israel sebagai salah satu agenda awal.

Kebijakan tersebut sekaligus menandai perubahan tajam dari pemerintahan sebelumnya yang dipimpin Gustavo Petro. Di bawah Petro, hubungan diplomatik Kolombia dan Israel memburuk hingga akhirnya diputus pada Mei 2024. Pemerintahan baru tidak hanya ingin membuka kembali hubungan diplomatik, tetapi juga menempatkan Israel sebagai salah satu mitra penting Kolombia, khususnya dalam bidang pertahanan dan teknologi militer.

Sinyal perubahan tersebut sebenarnya sudah terlihat sebelum Espriella resmi menjabat. Sehari sebelum pelantikan, pada Kamis (6/8), ia bertemu Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar dalam pertemuan tertutup di Kantor Presiden Kolombia di Barranquilla.

Pertemuan yang berlangsung hampir tiga jam itu membahas langkah-langkah untuk memperkuat kembali hubungan diplomatik, keamanan, dan ekonomi kedua negara.

Upaya pemulihan hubungan juga telah dibicarakan sejak Juli. Gideon Saar sebelumnya bertemu dengan calon Menteri Luar Negeri Kolombia Omar Bula. Dalam pertemuan tersebut, keduanya disebut menyepakati peta jalan untuk membangun kembali hubungan diplomatik Kolombia-Israel.

Salah satu rencana yang muncul adalah pemindahan kembali kedutaan Kolombia ke Yerusalem. Sebelumnya, Kolombia menempatkan perwakilan diplomatiknya di Tel Aviv.

ISRAEL KEMBALI JADI MITRA PERTAHANAN

Bagi pemerintahan Espriella, hubungan dengan Israel bukan sekadar persoalan diplomatik. Selama kampanye, Espriella menyampaikan kebutuhan Kolombia untuk memperkuat kemampuan militernya melalui modernisasi persenjataan dan teknologi. Ia menyebut drone, kecerdasan buatan, serta teknologi militer modern sebagai bagian dari kebutuhan tersebut.

Israel kemudian dipandang sebagai salah satu mitra potensial untuk mendukung agenda itu, bersama Amerika Serikat. Perubahan tersebut cukup signifikan mengingat Israel sebelumnya merupakan salah satu pemasok utama kebutuhan pertahanan Kolombia. Kerja sama kedua negara selama bertahun-tahun mencakup berbagai kebutuhan militer, mulai dari sistem komunikasi dan persenjataan hingga pesawat tempur.

Karena itu, normalisasi hubungan berpotensi membuka kembali kerja sama pertahanan yang sebelumnya terganggu akibat konflik diplomatik pada era Petro.

DARI PETRO KE ESPRIELLA

Perubahan arah hubungan Kolombia-Israel tidak bisa dilepaskan dari perbedaan politik antara Gustavo Petro dan Abelardo de la Espriella.

Petro merupakan politisi sayap kiri yang secara terbuka mengecam operasi militer Israel di Gaza. Ia bahkan menyebut tindakan Israel sebagai genosida dan beberapa kali membandingkannya dengan kejahatan kemanusiaan pada masa Nazi Jerman.

Ketegangan mulai meningkat sejak Oktober 2023. Israel kemudian menangguhkan kesepakatan ekspor produk keamanan ke Kolombia. Petro mersepons dengan menarik perwakilan diplomatik Kolombia dari Israel. Pada Mei 2024, pemerintahannya secara resmi memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel.

Pada saat yang sama, Petro mengumumkan rencana mambuka kedutaan Kolombia di Ramallah, wilayah Otoritas Palestina di Tepi Barat. Namun, rencana tersebut tidak terealisasi akibat kondisi dan pembatasan di wilayah Palestina. Di masa pemerintahannya, Kolombia juga mengambil posisi yang lebih keras terhadap Israel. Negara tersebut menjadi salah satu pihak yang mendukung gugatan Afrika Selatan terhadap Israel di Mahkamah Internasional.
Kini, pergantian pemerintahan mengubah arah tersebut.

PERGESERAN POLITIK MEMBAWA PERUBAHAN DIPLOMATIK

Espriella merupakan politisi sayap kanan yang sebelumnya dikenal sebagai pengacara dan pebisnis. Ia tidak memiliki pengalaman pemerintahan sebelum memenangkan pemilihan presiden dengan persaingan ketat melawan politisi sayap kiri Iván Cepeda.

Kedekatannya dengan Amerika Serikat juga menjadi salah satu faktor yang membedakan pemerintahan baru dari era Petro. Espriella bahkan memperoleh dukungan dari Presiden AS Donald Trump selama proses pemilihan.
Dengan perubahan kepemimpinan tersebut, hubungan Kolombia-Israel yang sebelumnya menjadi salah satu titik konflik kebijakan luar negeri Petro kini kembali diarahkan menuju normalisasi.

Bagi Israel, pemulihan hubungan berarti kembalinya salah satu mitra penting di Amerika Latin. Sementara bagi pemerintahan Espriella, Israel dapat kembali berperan sebagai mitra dalam bidang pertahanan, teknologi, dan kerja sama ekonomi.

Perubahan ini menunjukkan bagaimana pergantian kekuasaan di sebuah negara dapat membawa perubahan besar terhadap arah hubungan diplomatiknya. Dari hubungan yang sempat terputus karena perbedaan sikap terhadap konflik Gaza, Kolombia kini kembali membuka pintu kerja sama dengan Israel.

Part of MaranPublikasi

MaranPublikasi

News media digital markusacian.com dinaungi & dikelola secara profesional oleh MaranPublikasi.