Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berhasil menghimpun dana sebesar 7 miliar yuan melalui penerbitan surat utang global berdenominasi yuan atau Panda Bond. Nilai tersebut setara dengan US$1,033 miliar atau sekitar Rp18,4 triliun.
Dana hasil penerbitan surat utang tersebut akan digunakan untuk membantu menutup defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Purbaya mengatakan, penerbitan Panda Bond menjadi alternatif sumber pendanaan sebelumnya.
"Kita punya alternatif sumber pendanaan yang lebih murah dibanding sebelumnya," kata Purbaya saat ditemui di kantornya. Jumat (24/7/2026).
Dalam penerbitan kali ini, pemerintah sebenarnya mendapat respons yang sangar kuat dari investor. Total pesanan yang masuk mencapai 17 miliar yuan atau sekitar 2,4 kali lipat dari nilai surat utang yang ditawarkan. Meski demikian, pemerintah tetap hanya menarik dana sesuai target, yakni 7 miliar yuan. Menurut Purbaya, keputusan tersebut diambil agar pemerintah dapat memperoleh harga yang lebih baik.
"Karena targetnya memang satu miliar gini. Lead underwriter-nya bilang sekarang jangan terlalu dilebihin dulu. Kenapa? Biar harganya bagus. Sehingga next-nya lebih bagus juga," jelasnya.
Penerbitan Panda Bond tersebut terbagi dalam dua tenor. Sebanyak 5,6 miliar yuan diterbitkan dengan tenor tiga tahun dan kupon sebesar 1,90%. Sementara itu, 1,4 miliar yuan lainnya memiliki tenor lima tahun dengan kupon sebesar 2,19%. Proses setelmen atau penyelesaian transaksi dijadwalkan berlangsung pada 30 Juli 2026.
Tingginya permintaan investor menunjukkan kuatnya minat pasar terhadap penerbitan surat utang Indonesia dalam mata uang yuan. Pemerintah pun kini memiliki alternatif pembiayaan baru untuk mendukung kebutuhan pendanaan APBN 2026 dengan biaya yang dinilai lebih kompetitif.





