Polisi Thailand mengungkap fakta baru dalam penyelidikan kasus penembakan di Sekolah Debsirin Nonthaburi, Provinsi Nonthaburi, yang mengguncang negara tersebut pada Jumat (7/8).
Dilansir The Guardian, pelaku yang merupakan siswa kelas 9 berusia 14 tahun diduga lebih dulu menembak mati kakek dan neneknya menggunakan pistol milik sang kakek sebelum menuju sekolah.
Setibanya di sekolah, pelaku melepaskan tembakan yang menewaskan tiga guru dan tiga siswa. Setelah melakukan aksinya, pelaku kemudian mengakhiri hidupnya sendiri. Dengan demikian, total delapan orang tewas akibat aksi pelaku, sementara 22 orang lainnya mengalami luka-luka.
Menteri Kesehatan Thailand Pattana Promphat mengatakan sembilan korban berada dalam kondisi kritis. Sebagian korban mengalami luka tembak, sementara lainnya terluka saat berusaha menyelamatkan diri ketika insiden berlangsung.
Polisi menyebut pelaku melepaskan sedikitnya 26 tembakan, sementara 34 butir amunisi lainnya ditemukan di lokasi kejadian dan kini menjadi bagian dari penyelidikan.
Tragedi tersebut memicu respons dari berbagai pihak. Pemimpin oposisi Thailand dari Partai Rakyat, Natthaphong Ruengpanyawut, menyebut insiden itu sebagai peringatan bagi masyarakat Thailand untuk memperketat pengendalian senjata api serta meningkatkan sistem keamanan di lingkungan pendidikan.
Thailand sendiri merupakan salah satu negara dengan tingkat kepemilikan senjata api tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Meski wacana reformasi aturan kepemilikan senjata telah beberapa kali disampaikan, negara itu masih mengalami sejumlah insiden penembakan mematikan dalam beberapa tahun terakhir.

