Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden Donald Trump mengunggah peta yang menandai Selat Hormuz sebagai "NEW US Territory" atau wilayah baru Amerika Serikat.
Peta tersebut diunggah Trump melalui Truth Social pada 18 Agustus 2026, beberapa hari setelah ia menyampaikan ancaman untuk menjadikan jalur strategis tersebut sebagai wilayah AS. Langkah itu langsung mendapat penolakan dari Iran.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali Iran. Ia menyebut klaim tersebut tidak akan mengubah posisi Iran terhadap jalur pelayaran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.
Trump sebelumnya pertama kali mengangkat gagasan tersebut pada 14 Agustus. Saat itu, ia mengatakan akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat setelah konflik dengan Iran berakhir.
Ancaman tersebut kemudian kembali disampaikan Trump pada 17 Agustus. Sehari setelahnya, ia mengunggah peta yang secara langsung memberikan label wilayah AS pada Selat Hormuz.
Peta itu juga menjadi sorotan karena lingkaran yang digunakan untuk menandai kawasan tersebut terlihat mencakup sebagian daratan Iran di bagian Utara Selat.
Bagi Iran, persoalan Selat Hormuz bukan sekedar soal klaim wilayah. Teheran menggunakan akses terhadap jalur tersebut sebagai instrumen tekanan dalam konflik dengan Washington.
Iran sebelumnya membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz setelah perang AS-Israel dengan Iran pecah pada 28 Februari 2026. Pemerintah Iran menyatakan akses normal baru dapat dipulihkan apabila sejumlah tuntutannya dipenuhi, termasuk penghentian blokade terhadap pelabuhan Iran, pencabutan sanksi minyak, pembebasan aset yang dibekukan, serta pembayaran kompensasi atas kerusakan dan korban perang.
Gharibabadi kembali merespons unggahan Trump dengan menyebut klaim mengenai kemenangan AS atas Iran tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Menurutnya, kegagalan dalam konflik militer kini justru bergeser menjadi tekanan ekonomi.
Perselisihan tersebut semakin penting karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi dunia. Gangguan berkepanjangan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap pasar minyak dan perdagangan internasional.
Sementara itu, tekanan terhadap pemerintahan Trump juga berkembang di dalam negeri. Sejumlah anggota Partai Republik mulai mengkhawatirkan dampak konflik berkepanjangan dengan Iran menjelang pemilu paruh waktu AS yang akan menentukan kembali komposisi Kongres.
Sebelumnya, AS dan Iran sempat mencapai kesepahaman sementara selama 60 hari pada Juni 2026. Kesepahaman tersebut membuka peluang bagi pembicaraan mengenai program nuklir Iran sekaligus pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz.
Namun, kesepahaman itu berakhir pada Agustus tanpa menghasilkan penyelesaian jangka panjang. Setelahnya, ketegangan kembali meningkat dan perselisihan mengenai Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama konflik antara Washington dan Teheran.
