Sebanyak 85.390 mahasiswa asal wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) tercatat sebagai penerima KIP Kuliah yang masih aktif pada 2026.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Qodari, mengatakan jumlah tersebut mencapai 10,2 persen dari total 840.792 mahasiswa penerima KIP Kuliah yang masih aktif tahun ini.
Dari jumlah tersebut, 41.631 mahasiswa berasal dari wilayah 3T dan berkuliah di perguruan tinggi negeri (PTN). Sementara 43.759 lainnya berkuliah di perguruan tinggi swasta (PTS).
Namun, tidak seluruh mahasiswa asal wilayah 3T menempuh pendidikan di kampus yang berada di wilayah tersebut. Pemerintah mencatat hanya 45.348 mahasiswa atau 5,4 persen yang berkuliah di perguruan tinggi yang berlokasi di wilayah 3T.
Secara keseluruhan, penerima KIP Kuliah Aktif 2026 terdiri dari 380.741 mahasiswa di 124 PTN dan 460.051 mahasiswa di 2.204 PTS.
Untuk penerima baru pada 2025, tercatat 233.233 mahasiswa. Rata-rata pendapatan kotor gabungan orang tua penerima baru tersebut sekitar Rp1,274 juta per bulan bagi mahasiswa PTN dan Rp1,181 juta per bulan bagi mahasiswa PTS.
Pemerintah juga menyebut kuota penerima baru KIP Kuliah sebanyak 200.000 mahasiswa per tahun. Angka tersebut setara 10,9 persen dari total 1.835.693 mahasiswa baru jenjang sarjana dan diploma pada 2025.
Jika dibandingkan dengan kelompok proritas berdasarkan DTSEN desil 1 hingga 4 yang berjumlah 524.047 siswa, kuota 200.000 penerima baru setara dengan 38,2 persen.
Dari seluruh penerima KIP Kuliah, sekitar 90 persen menempuh program sarjana atau sarjana terapan. Berdasarkan rumpun ilmu, penerima paling banyak berada di bidang sosial dan humaniora sebesar 59 persen, disusul sains dan teknologi 32 persen, kesehatan 9 persen, serta kedokteran 0,1 persen.

