News

Karhutla 2026 Berpotensi Timbulkan Kerugian hingga Rp123,1 Triliun

Kerugian negara akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mencapai Rp123,1 triliun.

L
Liliy Anastya GunawanJurnalis Redaksi
Kamis, 3 September 2026 pukul 12.16 WIB
Karhutla  2026 Berpotensi Timbulkan Kerugian hingga Rp123,1 Triliun
Dok. MarkusAcian.com - Gambar ilustrasi berlisensi bebas terkait topik News.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari hingga Agustus 2026 diperkirakan membawa beban ekonomi dan kesehatan yang sangat besar. Kajian Center for Economic and Law Studies (CELIOS) memperkirakan total dampaknya berada pada kisaran Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun, tergantung skenario yang digunakan.

Direktur Ekonomi CELIOS Nailul Huda menyebut skenario tertinggi tersebut setara dengan 49,1% dari proyeksi PDRB Kalimantan Tengah pada 2026. Perhitungan itu juga belum memasukkan kemungkinan karhutla terus meluas hingga akhir tahun, sehingga nilai kerugian dapat bertambah.

Dari sisi ekonomi, kehilangan aset fisik dan terganggunya aktivitas perdagangan, pertanian, akomodasi serta makanan dan minuman diperkirakan menimbulkan kerugian sekitar Rp29,54 triliun, atau 0,23% dari PDB nasional. Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan estimasi dampak ekonomi nominal terbesar, mencapai Rp5,7 triliun, disusul Papua Barat Rp4,3 triliun dan Nusa Tenggara Timur Rp2,8 triliun.

Besarnya dampak juga terlihat dari luas wilayah yang terbakar. Data Sipongi Kementerian Kehutanan mencatat areal karhutla Januari-Agustus 2026 mencapai 202.010,96 hektare. Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas areal terbakar terbesar, yakni 38.310,86 hektare, diikuti Papua Selatan 25.838,53 hektare dan Papua Tengah 2.519,88 hektare.

Dampak karhutla juga tidak berhenti pada kerusakan lahan. Dalam perhitungan CELIOS, biaya kesehatan menjadi komponen terbesar dalam skenario kerugian tertinggi.

Jika hanya masyarakat yang terdiagnosis ISPA oleh tenaga kesehatan yang dihitung, terdapat sekitar 1,78 juta orang yang terdampak dengan estimasi biaya kesehatan Rp9,75 triliun. Namun, ketika masyarakat yang mengalami gejala ISPA tetapi tidak memeriksakan diri turut diperhitungkan, jumlahnya diperkirakan mencapai 17,4 juta orang dengan biaya kesehatan sekitar Rp93,56 triliun.

Beban kesehatan tersebut diperkirakan tidak selalu mengikuti luas lahan terbakar. Provinsi dengan kepadatan penduduk tinggi dapat mengalami biaya kesehatan lebih besar meskipun luas karhutlanya tidak menjadi yang tertinggi. Dalam perhitungan CELIOS, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Riau termasuk wilayah dengan estimasi biaya kesehatan terbesar.

Karhutla juga berpotensi mengurangi penerimaan pajak bersih daerah sekitar Rp269,86 miliar. Jawa Timur diperkirakan mengalami kehilangan terbesar sebesar Rp93,8 miliar, sedangkan Kalimantan Barat sekitar Rp28,9 miliar.

CELIOS juga mencatat pola sebaran karhutla 2026 mulai berubah. Kebakaran tidak hanya terkonsentrasi di wilayah yang selama ini dikenal sebagai kawasan rawan di Sumatra dan Kalimantan, tetapi juga menjangkau sejumlah wilayah Indonesia Timur.

Dengan berbagai dampak tersebut, CELIOS mendorong pemerintah memperkuat penanganan karhutla, termasuk terhadap masyarakat yang terdampak serta melakukan evaluasi terhadap aktivitas usaha yang berkaitan dengan wilayah kebakaran.

Hingga Agustus 2026, karhutla dengan demikian tidak hanya tercatat sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga telah membawa konsekuensi terhadap aktivitas ekonomi, kesehatan masyarakat dan penermiaan daerah.

Sumber: Bisnis.com

ADVERTISEMENT
Internet Anti Lemot di Jepang, Kantong Tetap Hemat 50%
Part of MaranPublikasi

MaranPublikasi

News media digital markusacian.com dinaungi & dikelola secara profesional oleh MaranPublikasi.