Big Deals! Diskon Hingga 55% untuk Kado Kustom & Hadiah Foto Menarik
IKLAN SPONSOR

Big Deals! Diskon Hingga 55% untuk Kado Kustom & Hadiah Foto Menarik

BEI Ungkap Masih Ada Empat Calon Emiten dalam Pipeline IPO

BEI mencatat masih ada empat perusahaan dalam antrean IPO, terdiri dari dua perusahaan kecil dan dua perusahaan besar. Hingga 10 Juli 2026, sebanyak tujuh emiten telah melantai di bursa dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp2,16 triliun. BEI juga menegaskan fokus pada kualitas perusahaan IPO, sembari mengkaji kemungkinan revisi target 50 IPO tahun ini.

T
Tim RedaksiJurnalis Redaksi
Senin, 13 Juli 2026 pukul 20.08 WIB
Bagikan:
BEI Ungkap Masih Ada Empat Calon Emiten dalam Pipeline IPO
Dok. MarkusAcian.com - Gambar ilustrasi berlisensi bebas terkait topik News.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan masih terdapat empat perusahaan yang berada dalam antrean (pipeline) pencatatan saham atau IPO. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengatakan dua di antaranya merupakan perusahaan dengan aset di bawah Rp50 miliar, sementara dua lainnya memiliki aset di atas Rp250 miliar.

Dilihat dari sektornya, satu perusahaan berasal dari sektor basic materials, satu dari consumer non-cyclicals, serta dua perusahaan bergerak di sektor healthcare.

Saidu menjelaskan, hingga 10 Juli 2026 sebanyak tujuh perusahaan telah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp2,16 triliun.

Ketujuh emiten tersebut adalah PT BSA Logistic Tbk (WBSA), PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan PT RANS Entertainmen Indonesia Tbk (RANS).

Sebelumnya, Saidu menegaskan BEI kini lebih mengutamakan kualitas perusahaan yang akan melakukan IPO dibanding sekadar mengejar jumlah pencatatan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat integritas pasar modal Indonesia.

Meski menargetkan 50 perusahaan melaksanakan IPO sepanjang 2026, BEI masih membuka kemungkinan untuk meninjau kembali target tersebut. Menurut Saidu, pembahasan mengenai revisi target masih berlangsung dan hingga kini belum ada keputusan resmi.