Rangkaian serangan drone Ukraina terhadap fasilitas logistik Wildberries, salah satu raksasa ritel daring Rusia, mulai menimbulkan dampak besar terhadap jaringan perdagangan negara tersebut.
Serangan terbaru pada Jumat (7/8/2026) memicu kebakaran di gudang Wildberries di Yekaterinburg. Sebelumnya, hampir dua lusin fasilitas perusahaan telah menjadi sasaran, termasuk lokasi yang berada lebih dari 1.600 kilometer dari garis depan perang. Dampaknya tidak hanya dirasakan perusahaan. Data Insight memperkirakan inventaris senilai hingga US$5 miliar atau sekitar Rp89 triliun telah hilang sejak serangkaian serangan tersebut dimulai.
Kyiv menyebut keberadaan perlengkapan militer yang diperjualbelikan melalui platform Wildberries menjadi salah satu alasan perusahaan tersebut masuk dalam sasaran serangan. Gangguan terhadap jaringan gudang juga berpotensi menghantam ribuan pedagang yang menggunakan Wildberries untuk menyimpan dan menjual barang mereka. Salah satunya, pengusaha Vladimir Zakurdaev, mengaku kehilangan stok senilai sekitar US$20.000.
Kondisi tersebut menjadi semakin serius karena Wildberries disebut memiliki utang lebih dari US$10 miliar kepada perbankan Rusia. Sejumlah bank besar, termasuk Sberbank dan VTB, memiliki eksposur terhadap perusahaan tersebut.
Pemerintah Rusia pun mulai membahas kemungkinan dukungan kepada Wildberries. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan pemerintah sedang melakukan pembicaraan dengan perusahaan terkait langkah yang dapat diambil setelah serangkaian serangan.
Wildberries bukan sekedar perusahaan ritel. Platform yang didirikan Tatyana Kim pada 2004 itu telah berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar Rusia bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Kini, serangan terhadap infratsrukturnya memperlihatkan bagaimana perang Rusia-Ukraina semakin menjangkau sektor sipil dan rantai distribusi ekonomi di dalam Rusia.


