Tekno

Ilmuwan Kembangkan Deteksi Penyakit Lewat Suara, Akurasi Capai Lebih dari 90 Persen

Ilmuwan mengembangkan teknologi biomarker vokal yang memungkinkan deteksi berbagai penyakit melalui analisis suara. Meski mencatat tingkat akurasi tinggi dalam sejumlah penelitian, metode ini masih memerlukan validasi sebelum digunakan sebagai alat diagnosis resmi.

T
Tim RedaksiJurnalis Redaksi
Jumat, 7 Agustus 2026 pukul 17.43 WIB
Ilmuwan Kembangkan Deteksi Penyakit Lewat Suara, Akurasi Capai Lebih dari 90 Persen
Dok. MarkusAcian.com - Gambar ilustrasi berlisensi bebas terkait topik Tekno.

Para Ilmuwan terus mengembangkan teknologi baru untuk mendeteksi berbagai penyakit hanya melalui analisis suara manusia. Pendekatan yang dikenal sebagai biomarker vokal ini dinilai berpotensi menjadi metode pendukung diagnosis yang lebih cepat, mudah, dan tidak invasif.

Melalui biomarker vokal, peneliti menganalisi karakteristik suara yang dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu. Perubahan pada otak, paru-paru, pita suara, maupun otot yang berperan dalam proses berbicara diyakini dapat meninggalkan jejak akustik yang dapat dikenali oleh kecerdasan buatan (AI).

Salah satu proyek terbesar di bidang ini adalah Bridge2AI-Voice yang didanai National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat. Program tersebut menargetkan pengumpulan sekitar 30.000 sampel suara dalam empat tahun mendukung penelitian berbagai penyakit, mulai dari gangguan neurologis, gangguan suara, penyakit pernapasan, hingga gangguan kejiwaan pada anak.

Penelitian mengenai biomarker vokal juga menunjukkan hasil yang menjanjikan untuk mendeteksi penyakit Parkinson. Perubahan karakter suara dilaporkan dapat dikenali sejak tahap awal penyakit, bahkan sebelum gejala fisik disadari oleh pasien maupun tenaga medis.

Sementara itu, tim peneliti dari University of Macau dan Shanghai University mengembangkan model kecerdasan buatan bernama Voice-AttentionNet. Model tersebut dilatih menggunakan puluhan ribu sampel suara dan mampu mengidentifikasi beberapa kondisi kesehatan, termasuk Parkinson, gangguan paru-paru, gangguan hati, aritmia sinus, serta gangguan tiroid, dengan tingkat akurasi rata-rata mencapai 91,61 persen.

Di tengah pesatnya perkembangan riset, para ahli juga menyusun pedoman internasional bernama VOCAL (Vocal Biomarker Guidelines for Ontology, Classification, Application, and Logistics). Pedoman yang diterbitkan dalam jurnal Digital Biomarker pada Juli 2026 itu bertujuan menyatukan standar istilah dan klasifikasi biomarker vokal agar hasil penelitian di berbagai negara dapat dibandingkan secara lebih konsisten.

Meski demikian, teknologi ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Para peneliti menilai biomarker vokal masih memerlukan validasi klinis yang lebih luas sebelum dapat digunakan sebagai alat diagnosis resmi. Selain itu, isu perlindungan data pribadi dan kepemilikan rekaman suara juga menjadi perhatian dalam pengembangan teknologi tersebut.

Hingga kini, belum ada biomarker vokal yang memperoleh persetujuan regulator kesehatan seperti Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat maupun European Medicines Agency (EMA) sebagai metode diagnosis resmi. Meski begitu, para ilmuwan optimistis teknologi ini akan terus berkembang dan menjadi pelengkap penting dalam layanan kesehatan di masa depan.

ADVERTISEMENT
Internet Anti Lemot di Jepang, Kantong Tetap Hemat 50%
Part of MaranPublikasi

MaranPublikasi

News media digital markusacian.com dinaungi & dikelola secara profesional oleh MaranPublikasi.