Kebakaran hutan dan lahan yang meluas di Indonesia kini mengancam orangutan yang sebelumnya diselamatkan dari perdagangan satwa liar. Di Kalimantan Barat, kobaran api bahkan mendekati pusat rehabilitasi orangutan Yiari, tempat puluhan satwa hasil penyelamatan dirawat.
Kondisi panas, kering, dan angin kencang membuat api bergerak cepat. Situasi tersebut diperparah oleh fenomena El Niño serta dampak perubahan iklim yang meningkatkan risiko kebakaran.
Dalam 13 hari pertama Agustus, Indonesia mencatat lebih dari tiga kali lipat titik panas dibandingkan sepanjang Agustus tahun sebelumnya. Lonjakan tersebut terjadi setelah jumlah kebakaran pada Januari hingga Juli juga mencapai tingkat yang sangat tinggi.
Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. Setelah sekitar 40 hari tanpa hujan, puluhan titik kebakaran dilaporkan muncul di berbagai kawasan.
Api kemudian bergerak mendekati pusat rehabilitasi Yiari. Dalam beberapa hari, jarak kobaran api yang sebelumnya sekitar satu kilometer menyusut hingga hanya sekitar 100 meter dari perimeter pusat rehabilitasi.
Untuk melindungi sekitar 60 orangutan yang berada di sana, pengelola memindahkan seluruh satwa ke kandang yang berada di bagian tengah kompleks agar lebih jauh dari ancaman api.
Upaya pemadaman juga dilakukan bersama. Pemerintah mengarahkan operasi water bombing, sementara tim dari pusat rehabilitasi ikut turun langsung membantu memadamkan api di sekitar kawasan.
Asap tebal yang muncul akibat kebakaran turut memperburuk kualitas udara dan menambah risiko bagi orangutan, satwa lain, serta ekosistem di sekitarnya.
Direktur Yiari, Dr Karmele Llano Sánchez, mengatakan tim pemadam harus bekerja tanpa henti menghadapi kobaran api yang kembali muncul setelah sebelumnya berhasil dikendalikan. Tim bahkan dilaporkan bekerja hingga dini hari dalam kondisi yang semakin melelahkan.
Situasi di sekitar pusat rehabilitasi kemudian mulai stabil pada Kamis malam. Seluruh orangutan dilaporkan tetap aman, meski ancaman kebakaran belum sepenuhnya berakhir.
Badan meteorologi Indonesia memperkirakan kondisi panas dan kering masih dapat bertahan sehingga munculnya kebakaran baru tetap tinggi.
Pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta meningkatkan kewaspadaan. Ancaman tersebut menjadi perhatian serius karena puncak musim kebakaran biasanya terjadi pada September dan Oktober.
Yiari kini membutuhkan tambahan dukungan dan peralatan pemadam kebarakan untuk menghadapi kemungkinan kebakaran berikutnya. Sebelumnya, pusat rehabilitasi tersebut telah memperingatkan risiko serupa setelah kebakaran yang bermula dari aktivitas pembukaan lahan merembet hingga ke salah satu kawasan restorasi ekosistem mereka.

