Kebakaran lahan meluas di sejumlah wilayah Kalimantan dan mulai berdampak langsung terhadap kehidupan warga. Kobaran api menghanguskan tanaman serta perkebunan, sementara asap tebal menyelimuti sejumlah kawasan permukiman.
Di pinggiran Pontianak, Kalimantan Barat, warga mengatakan kebakaran yang terjadi di dekat permukiman membuat rumah-rumah tertutup kabut asap. Agus Sunggodo, salah seorang warga, mengatakan api terlihat besar karena membakar kawasan yang sebelumnya belum pernah terbakar.
Sementara itu, kondisi serupa terjadi di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Warga melaporkan tanaman dan perkebunan mereka musnah akibat kebakaran. Kondisi kemarau panjang juga membuat upaya pemadaman semakin sulit karena ketersediaan air terbatas.
Indonesia saat ini menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan parah. Kondisi tersebut disebut berkaitan dengan menguatnya fenomena El Niño yang meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta polusi udara.
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan 107.465 hektare lahan terbakar sepanjang Januari hingga Juni 2026. Angka tersebut meningkat 110 persen dibandingkan periode yang sama pada 2023, ketika Indonesia juga mengalami dampak El Niño.
Dampak kebakaran dan asap bahkan meluas hingga wilayah Malaysia. Di Sarawak, sebanyak 11 wilayah tercatat mengalami kualitas udara tidak sehat pada Selasa (11/8), berdasarkan data Departemen Lingkungan Hidup Malaysia.


