Saham SpaceX mengalami tekanan tajam setelah perusahaan melaporkan lonjakan belanja modal (capital expenditure/capex) untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI), meski kinerja keuangan kuartal II 2026 melampaui ekspetasi pasar.
Dalam laporan keuangan pertamanya sebagai perusahaan publik, SpaceX mengungkapkan belanja modal meningkat hingga enam kali lipat menjadi US$18,4 miliar pada kuartal II 2026. Sebagian besar dana tersebut dialokasikan untuk membangun infrastruktur AI.
Reaksi investor pun negatif. Saham SpaceX sempat turun lebih dari 10 persen pada perdagangan pra-pasar. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa investasi AI dalam skala besar akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan keuntungan.
Meski demikian, perusahaan mencatat perbaikan kinerja dengan berhasil mempersempit kerugian dan optimistis terhadap prospek pendapatan jangka panjang. CEO Elon Musk bahkan menaikkan target pendapatan tahunan perusahaan menjadi US$1 triliun pada 2030, lebih cepat satu tahun dari proyeksi sebelumnya.
Manajemen SpaceX menegaskan investasi besar tersebut dilakukan secara efisien. Chief Financial Officer (CFO) Bret Johnsen menyebut investasi pada infrastruktur komputasi AI diperkirakan memiliki periode pengembalian modal kurang dari satu tahun.
Selain fokus mengembangkan teknologi AI, SpaceX juga berupaya memperluas bisnis layanan komputasi awan dengan memanfaatkan infrastruktur berbasis chip AI Nvidia.
Di sisi lain, pasar juga menantikan berakhirnya masa penguncian saham (lock-up) bagi investor internal perusahaan. Berakhirnya periode tersebut berpotensi memicu aksi jual saham tambahan yang dapat memengaruhi pergerakan harga dalam jangka pendek.



