Proyek Vila Kastel Rp3,58 Triliun di Turki Berubah Jadi Kota Mati

Proyek vila mewah Burj Al Babas di Turki berubah menjadi kota mati setelah pengembangnya bangkrut.

T
Tim RedaksiJurnalis Redaksi
Sabtu, 25 Juli 2026 pukul 17.20 WIB
Bagikan:
Proyek Vila Kastel Rp3,58 Triliun di Turki Berubah Jadi Kota Mati
Dok. MarkusAcian.com - Gambar ilustrasi berlisensi bebas terkait topik Bisnis.

Proyek perumahan mewah senilai sekitar US$200 juta atau Rp3,58 triliun di Turki kini berubah menjadi kawasan kosong. Ratusan vila bergaya kastel yang dibangun untuk menarik pembeli kaya dari Timur Tengah terbengkalai setelah pengembangnya mengalami kebangkrutan. Kompleks bernama Burj Al Babas itu berada di dekat Mudurnu, Turki. Ratusan bangunan putih yang berdiri berjajar di kawasan perbukitan membuatnya terlihat seperti kota film fantasi.

Pembangunan dimulai pada 2014 oleh Sarot Group dengan target membangun 732 vila. Setiap unit dipasarkan dengan harga sekitar US$370.000 hingga US$530.000. Sekitar 350 vila dilaporkan telah terjual, sementara pembangunan sekitar 587 unit sempat dimulai sebelum proyek terhenti. Burj Al Babas dirancang sebagai kawasan hunian dan liburan premium. Selain vila bergaya château Prancis, proyek ini juga direncanakan memiliki pusat perbelanjaan, restoran, pemandian khas Turki, spa, fasilitas olahraga, dan area hiburan. Lokasinya di kawasan pegunungan dan hutan dekat Istanbul dipromosikan sebagai destinasi eksklusif yang lebih tenang dibandingkan kawasan pesisir Turki. Konsep tersebut diharapkan menarik investor internasional, khususnya dari negara-negara Teluk.

Namun, kondisi ekonomi Turki, ketidakstabilan nilai tukar, menurunnya minat investor asing, dan meningkatnya biaya konstruksi membuat masalah keuangan pengembang semakin berat. Pada 2018, pembangunan dihentikan dan Sarot Group mengajukan perlindungan kebangkrutan. Berbeda dari anggapan bahwa para penghuni meninggalkan kawasan tersebut, sebagian besar vila di Burj Al Babas sebenarnya tidak pernah dihuni. Banyak bangunan hanya memiliki struktur luar, sedangkan interior, jaringan utilitas, dan infrastruktur penting belum selesai.

Fasilitas pendukung yang direncanakan juga tidak pernah terealisasi sepenuhnya. Jalan-jalan di dalam kompleks memang telah dibangun, tetapi pusat perbelanjaan, spa, dan area komunitas tidak pernah beroperasi. Kondisi tersebut membuat Burj Al Babas berubah menjadi kota mati yang justru menarik perhatian fotografer, pembuat film drone, dan urban explorer. Deretan kastel putih menjadi pemandangan yang banyak dibagikan di internet.

Upaya untuk menghidupkan kembali proyek melalui restrukturisasi keuangan sempat dibahas, tetapi masa depan Burj Al Babas masih belum jelas. Hingga kini, kawasan tersebut sebagian besar tetap kosong dan belum selesai, menjadikannya salah satu contoh kegagalan proyek properti ambisius yang paling terkenal di Turki.

ADVERTISEMENT
Internet Anti Lemot di Jepang, Kantong Tetap Hemat 50%