News

Ribuan Migran Masih Terjebak di Ceuta Sepekan Setelah Krisis Perbatasan

Ribuan migran masih bertahan di Ceuta sepekan setelah puluhan ribu orang masuk ke wilayah Spanyol tersebut. Krisis ini juga menyisakan korban jiwa, anak tanpa pendamping, serta persoalan kemanusiaan yang belum terselesaikan.

T
Tim RedaksiJurnalis Redaksi
Sabtu, 8 Agustus 2026 pukul 21.01 WIB
Ribuan Migran Masih Terjebak di Ceuta Sepekan Setelah Krisis Perbatasan
Dok. MarkusAcian.com - Gambar ilustrasi berlisensi bebas terkait topik News.

Sepekan setelah puluhan ribu migran memasuki Ceuta, wilayah Spanyol di pesisir Afrika Utara, situasi di kawasan tersebut belum sepenuhnya kembali normal. Di balik aktivitas kota yang mulai berjalan seperti biasa, ribuan orang masih bertahan tanpa tempat tinggal layak.

Pemerintah Spanyol memperkirakan sekitar 72.000 orang masuk ke Ceuta dalam gelombang kedatangan besar tersebut dan sekitar 2.500 orang masih berada di wilayah itu. Namun, angka tersebut masih diperdebatkan. Pemimpin Ceuta, Juan Jesús Vivas, memperkirakan jumlah yang masuk mencapai sekitar 80.000 orang, dengan 3.000 hingga 5.000 di antaranya masih bertahan.

Krisis tersebut juga meninggalkan persoalan kemanusiaan serius. Jumlah korban meninggal belum dapat dipastikan, dengan sejumlah perkiraan mencapai 141 orang. Puluhan lainnya masih dilaporkan hilang.

Di Pantai El Trampolín, kondisi para migran yang belum mendapatkan tempat tinggal meperlihatkan dampak krisis tersebut. Sejumlah orang tidur di ruang terbuka tanpa tenda maupun selimut, menghadapi suhu dingin pada malam hari dan panas menyengat pada siang hari.

Salah satunya Imad (26), warga Yamaan yang menempuh perjalanan selama delapan jam menuju Ceuta dengan berenang menggunakan sirip. Ia meninggalkan negaranya pada 2019 setelah menghadapi upaya perekrutan oleh kelompok Houthi.
Imad mengatakan dirinya berharap bisa mengajukan permohonan suaka setelah tibda di Spanyol. Namun, pusat penerimaan migran yang didatanginya justru dalam kondisi tertutup.

Ia mengaku sempat mengalami kesulitan mendapatkan makanan dan air hingga harus mengonsumsi daun serta meminum air kotor. Kondisi tersebut kemudian mulai membaik setelah organisasi kemanusiaan seperti Palang Merah memberikan bantuan.

Dilansir dari The Guardian, persoalan semakin rumit karena di antara mereka yang masih berada di Ceuta terdapat sekitar 1.300 anak tanpa pendamping. Seorang remaja perempuan berusia 16 tahun mengatakan kepada The Guardian bahwa dirinya sempat mendatangi pusat penerimaan anak setelah tiba, tetapi tempat tersebut sudah penuh. Ia kemudian tidur di jalan dan mengaku pernah melewati beberapa hari tanpa makanan.

Situasi itu mendorong sejumlah warga mengambil inisiatif sendiri. Di kawasan Sidi Mbarek, warga mendirikan tempat penampungan sederhana menggunakan tenda untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak dan perempuan yang tidak memiliki tempat tinggal.

Abdullah Abdullah Mustafa, kepala asosiasi lingkungan Sidi Mbarek, mengatakan warga khawatir para anak tanpa pendamping harus berada di tengah ratusan pria dalam kondisi yang sangat rentan.
Solidaritas juga muncul dari berbagai kelompok masyarakat. Sejumlah relawan memasak untuk ratusan orang setiap hari, sementara organisasi lokal Luna Blanca menggelar distribusi hingga sekitar 5.000 makanan per hari.

Warga lainnya, Aisha Ahmed Ammar, bahkan rutin datang ke pantai El Trampolín bersama kedua anaknya untuk membawa makanan dan pakaian. Ia juga membagikan akses internet dari ponselnya agar para migran dapat menghubungi keluarga mereka.

KEKHAWATIRAN GELOMBANG BARU

Di tengah upaya bantuan tersebut, pemerintah dan masyarakat Ceuta masih menghadapi ketidakpastian mengenai situasi berikutnya. Vivas mengatakan sejumlah unggahan di Tiktok, Instagram, WhatsApp, dan platform lain telah memunculkan seruan untuk melakukan penyeberangan massal kembali pada pertengahan Agustus. Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat Ceuta khawatir terhadap kemungkinan terulangnya kejadian serupa.

Di sisi lain, masih belum jelas apa yang sebenarnya memicu gelombang migrasi besar tersebut. Sejumlah migran mengatakan mereka mendapat dorongan, bahkan bantuan, dari aparat Maroko untuk melakukan penyeberangan.

Pemerintah Spanyol dan Uni Eropa kini menghadapi tantangan untuk menangani persoalan perbatasan sekaligus memastikan ribuan orang yang masih berada di Ceuta mendapatkan perlindungan yang layak, terutama anak-anak dan kelompok rentan.

Bagi warga seperti Aisha, besarnya krisis membuat bantuan masyarakat terasa tidak pernah cukup. Namun, di tengah ketegangan dan ketidakpastian, solidaritas lokal menjadi salah satu penopang utama bagi para migran yang masih bertahan di Ceuta.

ADVERTISEMENT
Internet Anti Lemot di Jepang, Kantong Tetap Hemat 50%
Part of MaranPublikasi

MaranPublikasi

News media digital markusacian.com dinaungi & dikelola secara profesional oleh MaranPublikasi.