Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (29/7/2026) setelah sempat mengalami tekanan pada sesi sebelumnya. Kenaikan dipicu oleh berkurangnya persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS), di tengah ekspetasi pasar terhadap kemungkinan perubahan kebijakan produksi oleh negara-negara anggota OPEC+. Mengacu pada data pasar, harga minyak mentah Brent naik US$2,71 atau sekitar 3,2 persen menjadi US$86,80 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$2,26 atau 3,4 persen ke level US$81,95 per barel.
Sentimen positif datang setelah American Petroleum Institute (API) melaporkan persediaan minyak mentah AS menyusut sekitar 3,3 juta barel pada pekan yang berakhir 24 Juli 2026. Di sisi lain, persediaan bensin bertambah sekitar 918 ribu barel, sedangkan stok minyak sulingan meningkat 355 ribu barel dibandingkan pekan sebelumnya. Pelaku pasar kini menantikan data resmi dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu setempat untuk memperoleh gambaran terbaru mengenai kondisi pasokan energi di Amerika Serikat.
Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi laporan yang menyebut OPEC+ berpeluang menghentikan peningkatan produksi minyak selama tiga bulan mulai Oktober 2026. Kebijakan tersebut disebut akan dipertimbangkan setelah kelompok produsen menyelesaikan pengembalian pasokan yang sebelumnya dipangkas secara sukarela. Meski menguat, harga minyak masih bergerak fluktuatif akibat perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sebelumnya sempat mengganggu arus perdagangan minyak global, terutama di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi energi dunia.
Pada perdagangan sehari sebelumnya, harga minyak bahkan sempat turun sekitar 5 persen ke level terendah dalam dua pekan setelah muncul harapan adanya kembali pembicaraan untuk meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan telah terjadi pembicaraan yang dinilai positif dengan Iran. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tindakan militer dapat kembali dilakukan apabila proses negoisasi tidak menghasilkan kesepakatan. Di sisi lain, pemerintah Iran membantah tengah melanjutkan perundingan dengan Washinton.
Sementara itu, sejumlah sumber menyebut Oman mengajukan usulan kepada Iran terkait pengelolaan Selat Hormuz. Proposal tersebut disebut mendapat dukungan dari sejumlah negara Teluk dan diharapkan dapat membantu mengurangi gangguan terhadap jalur perdagangan minyak global.





