Harga minyak kembali menguat pada (16/7/2026) dan mencatat kenaikan selama empat hari berturut-turut. Penguatan terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terbaru terhadap fasilitas militer Iran, yang meningkatkan kekhwatiran pasar terhadap kemungkinan konflik kembali meluas.
Harga minyak Brent naik 0,4 persen menjadi 85,28 dolar AS per barel, sedangkan WTI menguat 0,5 persen ke level 80,02 dolar AS per barel.
Pasar juga mencermati potensi gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG dunia. Iran bahkan mengancam akan memperluas pembatasan ekspor energi di kawasan tersebut.
Analis menilai harga WTI masih berpotensi naik ke kisaran 85 hingga 87 dolar AS per barel jika konflik terus berkembang. Goldman Sachs juga memperkirakan harga Brent bisa menembus 110 dolar AS per barel pada kuartal IV jika pemulihan ekspor dari kawasan Teluk tetap terhambat.
Selain Selat Hormuz, potensi gangguan di Selat Bab el-Mandeb oleh kelompok Houthi yang didukung Iran juga menjadi perhatian pasar karena dapat mengancam jalur distribusi energi penting lainnya.
Di sisi lain, persediaan minyak mentah AS turun 1,7 juta barel pada pekan yang berakhir 10 Juli. Meski penurunannya lebih kecil dari perkiraan analis, stok minyak tetap menyusut di tengah meningkatnya ketidakpastian pasokan global akibat konflik di Timur Tengah.



/2026/07/08/973669943.jpg)

