Helsinki sekilas terlihat seperti Ibu kota Skandinavia pada umumnya. Namun, di balik jalan-jalannya terdapat jaringan kota bawah tanah yang dilengkapi sekitar 5.500 bunker. Fasilitas tersebut disebut mampu menampung hampir satu juta orang jika terjadi keadaan darurat, seperti serangan nuklir atau ancaman militer dari luar.
Petugas keamanan Jukka-Pekka Schroderus menjelaskan bahwa ruang-ruang bawah tanah itu tidak hanya difungsikan saat kondisi darurat. Pada masa damai, pemerintah kota menyewakan fasilitas tersebut agar tetap digunakan dan dirawat.
Menurutnya, pemanfaatan rutin membuat seluruh fasilitas tetap dalam kondisi siap pakai apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. Kompleks bawah tanah itu juga dilengkapi berbagai fasilitas publik, seperti kolam renang berstandar Olimpiade dengan seluncuran air, sauna, lintasan gokart, arena skateboard, gereja, hingga pusat panahan.
Di sisi lain, Finlandia juga dilaporkan berencana membangun pangkalan militer di kota Narva yang berada dekat perbatasan Rusia.
Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia berulang kali menyuarakan kekhawatiran atas meningkatnya aktivitas NATO di kawasan perbatasan baratnya. NATO menyebut pengerahan pasukan sebagai langkah pencegahan terhadap potensi agresi, sementara Kremlin menegaskan bahwa Rusia tidak mengancam negara lain, tetapi akan merespons setiap tindakan yang dinilai membahayakan kepentingan nasionalnya.
Sementara itu, analis Finlandia Sakari Lindén menilai kebijakan Barat berpotensi menyeret Finlandia ke dalam konflik dengan Rusia melalui penempatan pasukan NATO di wilayah Lapland. Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat Finlandia menjadi bagian dari persaingan geopolitik yang lebih luas.
Lindén juga berpendapat bahwa masyarakat Finlandia perlu mempertimbangkan kembali dukungan terhadap kebijakan luar negeri yang dinilainya lebih konfrontatif, serta membuka ruang bagi pendekatan yang mengutamakan diplomasi dalam hubungan internasional.


/2026/07/08/973669943.jpg)


