Negosiasi Pembebasan Kapten Ashari Samadikun Masih Buntu, DPR Desak Pemerintah Bentuk Task Force

Proses pembebasan Kapten Ashari Samadikun yang disandera perompak Somalia masih menemui jalan buntu akibat belum jelasnya pihak yang dapat diajak bernegoisasi dan berubah-ubahnya nilai tebusan. DPR meminta pemerintah segera membentuk task force untuk mempercepat upaya penyelamatan.

T
Tim RedaksiJurnalis Redaksi
Rabu, 29 Juli 2026 pukul 13.04 WIB
Bagikan:
Negosiasi Pembebasan Kapten Ashari Samadikun Masih Buntu, DPR Desak Pemerintah Bentuk Task Force
Dok. MarkusAcian.com - Gambar ilustrasi berlisensi bebas terkait topik News.

Upaya pembebasan Kapten Ashari Samadikun, nahkoda asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yang menjadi sandera perompak di perairan Somalia, hingga kini masih belum menunjukkan perkembangan signifikan. Ketidakjelasan pihak yang dapat diajak bernegoisasi serta berubah-ubahnya nilai uang tebusan menjadi kendala utama dalam proses penyelamatan. Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal mengungkapkan, berdasarkan laporan yang diterimanya, hingga saat ini belum ada pihak yang secara resmi mewakili kelompok penyandera untuk dijadikan mitra negoisasi. Kondisi tersebut membuat upaya komunikasi berjalan sulit dan belum menghasilkan kepastian.

Selain itu, lokasi penyanderaan dilaporkan terus berpindah sehingga menyulitkan proses pelacakan. Informasi mengenai nilai tebusan yang diminta para perampok juga terus berubah, mulai dari US$2 juta, kemudian meningkat menjadi US$5 juta, hingga terakhir disebut mencapai US$20 juta. Namun, besaran tersebut belum dapat dipastikan kebenaranannya.

Melihat situasi tersebut, Syamsu Rizal meminta pemerintah segera membentuk satuan tugas khusus (task force) yang melibatkan TNI, Kementerian Luar Negeri, dan instansi terkait agar seluruh proses penanganan berjalan lebih terkoordinasi. Menurutnya, keselamatan warga negara Indonesia harus menjadi prioritas utama.

Ashari merupakan salah satu dari empat warga negara Indonesia yang menjadi sandera di atas kapal tanker MT Honour 25 sejak kapal tersebut dibajak perompak Somalia pada April 2026. Saat insiden terjadi, kapal sedang berlayar menuju Mogadishu, Somalia. Dalam rapat bersama TNI dan Kementerian Luar Negeri, Syamsu Rizal turut memperlihatkan rekamanan video yang dikirim keluarga Ashari. Video tersebut memperlihatkan kondisi para sandera yang memprihatinkan. Mereka mengalami keterbatasan air bersih hingga harus menyaring air keruh sebelum dikonsumsi, sementara Ashari tetap menjalankan ibadah di tengah penyanderaan.

Di sisi lain, perusahaan pemilik kapal disebut memiliki keterbatasan finansial untuk memenuhi tuntutan kelompok perompak. Hingga kini belum ada kepastian mengenai besaran tebusan maupun perkembangan negoisasi yang dapat membuka jalan bagi pembebebasan para sandera.

Sementara itu, ayah Ashari Samadikun, Syamsuddin Dg Ngawing, mengaku belum melihat hasil nyata dari upaya yang dilakukan perusahaan maupun pemerintah. Ia juga mengungkapkan bahwa persediaan logistik di atas kapal semakin menipis dan komunikasi dengan para sandera kian terbatas karena mereka berada di bawah pengawasan ketat kelompok bersenjata.

ADVERTISEMENT
Internet Anti Lemot di Jepang, Kantong Tetap Hemat 50%