Sedikitnya 72 orang dilaporkan meninggal dunia saat berusaha menyeberang dari Maroko menuju Ceuta, wilayah kantong milik Spanyol di Afrika Utara, di tengah gelombang migrasi besar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Dilansir dari The Guardian, sekitar 50.000 orang memasuki Ceuta pekan ini. Sebagian besar menempuh perjalanan dengan berenang melewati perbatasan laut setelah muncul kabar bahwa akses dari sisi Maroko lebih longgar dibanding biasanya.
Salah seorang migran asal Maroko, Youssef El Abbas, mengaku berhasil mencapai wilayah Spanyol setelah berenang selama beberapa menit. Namun, ia mengaku menyaksikan sejumlah korban meninggal yang mengapung di perairan selama perjalanan menuju Ceuta.
Pemerintah Spanyol menyebut lonjakan migran tersebut sebagai pelanggaran terhadap integritas wilayah negaranya. Madrid menilai jaringan penyelundup manusia memanfaatkan situasi menyusul putusan Mahkamah Agung Spanyol terkait penanganan migran yang memasuki Ceuta dan Melilla.
Di sisi lain, muncul spekulasi bahwa pelonggaran pengawasan di perbatasan berkaitan dengan memanasnya hubungan diplomatik antara Spanyol dan Maroko. Namun, pemerintah Maroko membantah tudingan tersebut dan menegaskan tetap bekerja sama dengan Spanyol dalam pengawasan perbatasan.
Gelombang migrasi menuju Ceuta bukan kali pertama terjadi. Pada 2021, sekitar 10.000 orang juga sempat memasuki wilayah tersebut dalam waktu dua hari saat hubungan kedua negara mengalami ketegangan diplomatik.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/photo/ori/2026/08/01/824e11e3-1e98-4ed8-8067-d6dc99f00184.jpg)



